SELAMAT MEMBURU TEMPAT SEJARAH

Sejarah selalu menyimpan misteri, telusuru dia dan ungkapkan kebenarannya.....!!

aceh

Memuat...

Selasa, 09 Februari 2010

Jejak Perjuangan Teuku Panglima Polem

TEUKU PANGLIMA POLEM
Pendahuluan
Dalam sistem dan struktur pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam ditemukan
lebih kurang sebanyak tiga puluh tujuh gelar kehormatan sesuai dengan tingkat wibawa,
wewenang den tanggungjawab yang mereka miliki masing-masing. Sebutan Panglima
Polem merupakan salah satu dari sekian banyak gelar kehormatan tersebut yang secara
khusus dinobatkan kepada salah seorang keturunan darah kaum bangsawan Aceh.
(Alamsyah: 1990, 10-18). Dalam sistem pemerintahan kerajaan Aceh, Panglima Polem
merupakan pejabat Panglima Sagoe XXII Mukim (Pedalaman Aceh Besar) dengan gelar
tambahan Sri Muda Setia Peurkasa. Sedangkan untuk sebelah kanan Aceh Besar Panglima
Sagoe Mukim XXVI bergelar Sri Imam Muda dan untuk sebelah kiri Mukim XXV bergelar
Setia Ulama. Walaupun masing-masing Panglima Sagoe tersebut membawahi para
Uleebalang, Imeum Mukim dan Keuchik, namun hanya sagoe pedalaman saja yang berhak
memiliki gelar Panglima Polem.
Dengan demikian, sebutan Panglima Polem bukanlah nama asli dari tokoh yang
bersangkutan, tetapi merupakan gelar kehormatan yang dinobatkan karena
kebangsawanan sekaligus karena jabatan seseorang. Oleh karena itu, dalam sejarah
kerajaan Aceh ditemukan gelar Panglima Polem yang selalu diikuti oleh nama lain sebagai
nama asli dari tokoh yang bersangkutan.
Tokoh Panglima Polem yang dibahas dalam tulisan ini adalah Muhammad Daud,
yang diangkat menjadi Panglima Sagoe Mukim XXII Pedalaman Aceh Besar menjelang
berakhirnya Kerajaan Aceh Darussalam di bawah Sultan Tuanku Muhammad Daud Syah
(1884-1903). Sebagai tangan kanan Sultan, maka selain Teuku Umar dialah salah seorang
tokoh yang paling banyak menentukan nasip akhir dari Kerajaan Aceh Darussalam.
Silsilah Panglima Polem IX
Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan
tahun kelahiran Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, yang jelas dia berasal dari
keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak
dan Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan
nama Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima
Sagoe XXVI Mukim Aceh Besar. (Ibrahim Alfian: 1977, 41)
Setelah dewasa, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan salah
seorang puteri dari Tuanku Hasyim Bagntamuda, tokoh Aceh yang seperjuangan dengan
ayahnya. Dia diangkat sebagai Panglima Polem IX pada bulan Januari 1891 untuk
menggantikan ayahnya Panglima Polem Raja Kuala yang telah berpulang ke rahmatullah.
Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mempunyai nama lengkap
Teuku Panglima Polem Sri Muda Setia Perkasa Muhammad Daud. (Ibrahim Alfian: 1977,
209).
Dukungan Keluarga
Dalam perjuangannya sebagai Panglima Sagoe XXII Mukim (Pedalaman Aceh
Besar), Teuku Panglima Polem Sri Muda Peurkasa Muhammad Daud dibantu oleh dua
orang Panglima, yakni abang iparnya yang bernama Teuku Ali Basyah dari Geudong dan
Teuku Ibrahim Montasie'. Di samping itu, Panglima Polem juga mendapat dukungan yang
sangat kuat dari mertuanya Tuanku Hasyim Bangtamuda. Di mana dia sendiri berhasil
mengumpulkan dana sabilillah dari wilayah bawahannya XXII Mukim yang jumlahnya
sekitar 35.000 ringgit dan mertuanya Tuanku Hasyim juga berhasil mengumpulkan amunisi
dari Daerah VII Mukim Pidie.
Dukungan Ulama
Selain itu, dalam perjuangannya Panglima Polem Raja Daud secara tidak langsung
juga memperoleh dukungan dari para ulama Aceh, seperti Teungku Mayet Tiro, Teungku
Klibeuet, Habib Lhong dan Teungku Geulima. Mereka mendirikan kubu-kubu pertahanan
rakyat Aceh guna menghadapi serangan Belanda, terutama terhadap Daerah XXII Mukim.
Bahkan lebih dari itu, ternyata para ulama juga ikut aktif pada barisan terdepan dalam
menghadapi Belanda. Teungku Muhammad Amin misalnya, dia secara riil memperoleh
pengakuan dari Sultan Muhammad Daud Syah sebagai pimpinan pejuang menggantikan
Teungku Chi' Syaikh Saman di Tiro yang telah berpulang ke rahmatullah pada tahun 1892.
Di samping itu, peperangan juga dipimpin langsung oleh Teungku Pante Kulu, Teungku
Kuta Karang, Habib Samalanga, Teungku Ati Lam Kra', Teungku Mat Saleh, Teungku
Rayeu', Teungku Di Caleue, Teungku Husen Lueng Bata, Habeb Lhong dan Pocut Mat Tahe.
(Ibrahim Alfian: 1977, 42).
Sebagai pendukung utama Panglima Polem dari pihak ulama, maka Teungku
Muhammad Amin dan Teungku Beb diangkat menjadi Panglima Besar Pasukan Muslimin. Di
samping itu, secara khusus diangkat pula Teuku Nyak Makam sebagai Panglima Besar
untuk wilayah Aceh Timur. Pada tahun 1893 Nyak Makam tecatat berhasii menggerakkan
sebuah perlawanan yang cukup sengit di daerah Tamiang yang telah menewaskan
sejumlah perwira dan pasukan Belanda.
Bergabung Dengan Teuku Umar
Sampai tahun 1896, Belanda masih sulit mencapai kubu-kubu pertahanan rakyat
Aceh. Kesulitan itu diperparah lagi oleh segala siasat Teuku Umar bersama 15 orang
panglimanya yang pada bulan September 1 893 secara pura-pura menyerah kepada
Belanda, lalu dia diangkat sebagai Panglima Perang Besar di pihak Belanda.
Di penghujung bulan Maret 1896 setelah terjadi penyerangan besar-besaran
terhadap patroli Belanda di daerah Lam Kra' VII Mukim Ba'et Aceh Besar, secara dramatis
Teuku Umar bersama 15 pengikutnya berbalik kembali membela rakyat Aceh. Teuku Umar
meninggalkan Belanda setelah memiliki dana, persenjataan, dan telah banyak menguasai
teknik tempur dari pihak Belanda. Pada tanggal 26 April 1896 (ia dipecat oleh penguasa
Belanda dari segaia jabatannya dan sejak saat itu dia menjadi tokoh utama yang paling
diincar oleh pihak Belanda. Dalam pengejaran Teuku Umar, Gubernur Belanda Deijkerhoff
meminta bantuan penambahan pasukan dari Pemerintah Pusat di Batavia. Bantuan
pasukan besar-besaran tiba bersama Panglima Angkatan Darat dan Panglima Angkatan
Laut Belanda di bawah pimpinan Vetter. Mereka menggempur seluruh kubu pertahanan
Aceh dari semua lini.
Sementara ilu, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud bersama 400 orang
pasukannya bergabung dengan Teuku Umar untuk menghadapi serangan Belanda.
(Ibrahim Alfian: 1977, 45). Dalam pertempuran besar-besaran yang berlangsung selama
14 hari, sejak tanggal 8 sampai 21 April di pihak Belanda jatuh korban sebanyak 215
orang tewas dan 190 orang luka-luka. Dengan perasaan takut bercampur marah pasukan
Belanda kembali menekan dan mempertajam serangannya, sehingga dalam pertempuran
di Aneuk Galung Belanda berhasil menjatuhkan korban di pihak Aceh sebanyak 110 orang
sedangkan di pihak mereka hanya 6 orang tewas dan 33 orang luka-luka, di antaranya 4
orang, perwira. Para pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran itu kebanyakan berasal
dari daerah Pidie. Di dalamnya terdapat salah seorang tokoh pejuang Aceh yang sangat
tangguh yakni Teungku Mat Amin (salah seorang putera Teungku Chi' di Tiro).
Di bawah pimpinan Gubernur J. W. Stemfoort, Belanda merubah pola pertahannya
dari sistem konsentrasi ke politik agresi. Walaupun demikian, Belanda tetap menjaga
keamanan wilayah yang penduduknya sedikit agak bersahabat dengan pihak mereka,
seperti XXV Mukim, IV Mukim dan VI Mukim yang dalam perkembangan selanjutnya
menjadi wilayah sasaran penyerangan Teuku Umar dan Panglima Polem.
Bergerilya ke Pegunungan XXII Mukim
Awal bulan Juli 1896 kawasan XXII Mukim, tempat dimana Sultan Muhammad Daud
Syah berada mendapat serangan besar-besaran dari pihak Belanda. Penyerangan ini
memaksa Sultan Aceh mengundurkan diri ke Pedalaman Seulimeum pada tanggal 29 Juli
1896. Pihak Belanda dengan kekuatan 1,5 batalion infantri kemudian menyerang kawasan
Seulimeum setelah mengetahui keberadaan Sultan Aceh di sana. Mendapatkan
penyerangan itu, pada bulan September Sultan hijrah ke Pidie.
Bersamaan dengan menyingkirnya Sultan Muhammad Daud Syah ke Pidie, maka
demi menegakkan hak, martabat dan harga diri rakyat Aceh, Panglima Polem bersama
pasukannya langsung menuju ke pegunungan XXII Mukim. Mereka berusaha memperkuat
benteng pertahanan di wilayah itu.
Sejak awal September hingga akhir bulan Oktober 1896 Belanda rnenyerang XXII
Mukim. Belanda dapat mendesak dan menghancurkan kubu-kubu pertahanan Aceh, hingga
mereka berhasil menduduki Jantho.
Menghadapi kenyataan itu Panglima Polem bersama pasukannya mulai membuat
perhitungan dengan pasukan Belanda, terutama dengan cara bergrilya sambil mendirikan
kubu-kubu pertahanan di pegunungan Seulimeum, seperti di Gle Yeueng. Dari sini
Panglima Polem berhasil menduduki Kuta Ba'Teue. Cuaca buruk yang luar biasa sejak
Nopember 1896 hingga pertengahan Januari 1897 sangat banyak membantu pola grilya
yang dimainkan Panglima Polem. Curah hujan yang luar biasa membuat sebagian besar
jalan lintas yang sering digunakan pasukan Belanda menjadi becek, longsor dan sangat
sukar untuk dilalui.
Hijrah Ke Pidie
Pada tahun 1897 Belanda terpaksa mengambil inisiatif untuk menambah
pasukannya di Aceh. Sejak saat itu serangan pihak Aceh mulai menurun dan Teuku
Umarpun mengambil jalan pintas mengundurkan diri ke Daya Hulu. Untuk mengelabui
Belanda tentang keberadaannya, Teuku Umar sengaja meninggalkan Panglima Polem
bersama sejumlah pasukannya di wilayah pegunungan Seulimeum.
Dalam sebuah pertempuran di Gle Yeueng, dengan kekuatan 4 kompi infantri
Belanda akhirnya berhasil menguasai 3 buah benteng yang didirikan oleh Panglima Polem.
Dalam pertempuran ini secara keseluruhan korban yang jatuh berjumlah 27 orang tewas
dan 47 orang luka-luka. Bulan Oktober 1897 secara keseluruhan Wilayah Seulimeum
akhirnya berhasil dikuasai oleh Belanda tanpa banyak perlawanan, dan Panglima Polem
terpaksa mengambil jalan hijrah ke Pidie.
Menyusun Setrategi Baru
Pada bulan Nopember 1897 kedatangan Panglima Polem di Pidie diterima oleh
Sultan Aceh (Muhammad Daud Syah) yang sejak beberapa bulan sebelumnya telah berada
di Keumala. Dalam bulan dan tempat yang sama, Panglima Polem mengadakan suatu
musyawarah bersama dengan beberapa orang tokoh pejuang Aceh lainnya, seperti Teuku
Geudong dari IX Mukim Garot, Teuku Lampoh U, Teuku Ali Baet, Teuku Ban Sama' Indra,
Teungku Cot Plieng, Teuku Bentara Cumbo' dan habib Husen. Musyawarah ini bertujuan
untuk menyusun siasat baru dalam mengantisipasi kemungkinan kalau Belanda melakukan
penyerangan ke Pidie. Mereka juga mengundang agar Teuku Umar yang pada waktu itu
masih berada di Daya datang ke Pidie untuk bergabung bersama.
Bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh
kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem dan para pejuang lainnya
untuk memperkuat barisan pertahanan di sana. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima
Polem bersama Teuku Umar dan para ulama serta uleebalang terkemuka lainnya
menyatakan sumpah setianya kepada Sultan Muhammad Daud Syah dengan tekad bulat
bersama-sama meneruskan perjuangan melawan Belanda.
Menghadapi Serangan Belanda
Setelah Belanda membaca situasi dan kondisi pertahanan Aceh di lapangan, maka
sejak tanggal 1 Juni hingga pertengahan September 1898 Belanda melakukan serangan
besar-besaran ke wilayah Pidie. Serangan ini berada di bawah komando van Heutsz yang
sejak bulan Maret 1898 telah diangkat sebagai Gubernur Sipil dan Militer Belanda
menggantikan Mayor Jenderal van Vliet. Dalam menyusun strategi Heutsz didampingi oleh
Snouck Hurgronje yang diangkat selaku Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan
Bumiputera. Serangan ini mereka bagi dalam dua koloni, yakni koloni Pidie yang
berkekuatan lebih kurang 6000 orang dan koloni Seulimeun yang jumlahnya kira-kira 1950
orang.
Untuk menghadapi serangan tersebut pasukan pejuang Aceh dibagi menjadi
beberapa kelompok. Untuk wilayah VII Mukim sepenuhnya dipercayakan kepada Panglima
Polem bersama Tuanku Muhammad sedangkan dalam wilayah Pidie secara langsung
berada dibawah komando Sultan bersama para pengikutnya. Adapun Teuku Umar
dipercayakan umuk memperkuat pertahanan di wilayah Aree dan Garot. Secara umum
peperangan ini telah banyak memberikan angin segar bagi pihak Belanda, karena serangan
itu telah memaksa para pejuang Aceh untuk mengundurkan diri dan daerah Pertahanannya
ke wilayah yang lebih aman.
Pada bulan November 1898, Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem
sendiri akhimya mengambil jalan pintas untuk mengundurkan diri dari Pidie menuju Timur
ke perbukitan hulu sungai Peusangan. Sementara Belanda terus mengejar mereka sampai
akhirnya meletus perang di Buket Cot Phie. Dalam pertempuran ini pasukan Panglima
Polem hanya berhasil menewaskan pihak Belanda sebanyak 3 orang dan 8 orang luka-luka,
sedangkan korban pasukan di pihak Aceh seluruhnya mencapai 34 orang.
Keberhasilan Belanda dalam serangan ini membuat mereka semakin berani
melakukan pengejaran. Setelah menguasai perbukitan pedalaman Peusangan pada tanggal
21 November 1898, Belanda akhirnya berhasil membuat kesatuan pasukan Aceh menjadi
terpencar-pencar. Sultan menyingkir ke Bukit Keureutoe, Teuku Chik Peusangan ke Bukit
Peutoe sedangkan Panglima Polem menuju ke pegunungan di bagian Selatan Lembah
Pidie. Di wilayah tersebut mereka bertahan selama dua bulan sampai akhirnya Belanda
melakukan pembersihan seluruh benteng-benteng Aceh yang masih terdapat di Samalanga
dan Meureudu.
Menyingkir ke Daerah Gayo
Di awal tahun 1901, Sultan Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem
mengambil inisiatif untuk sama-sama menyingkir ke daerah Gayo dan kemudian
menjadikan daerah ini sebagai pusat pertahanan Aceh. Di daerah ini Sultan Aceh bersama
Panglima Polem dan pasukannya kembali menyusun strategi baru untuk mempersiapkan
penyerangan terhadap Belanda.
Sementara itu, pihak Belanda sendiri sudah sejak lama ingin menyerang daerah
Gayo, karena penduduk di sana selalu memberikan bantuan perang sabil dan perbekalan
kepada Sultan dan para pejuang Aceh. Apalagi setelah pihak Belanda mengetahui
keberadaan Sultan dan panglima Polem di daerah tersebut. Oleh karena itu, daerah
pedalaman Gayo yang dijadikan sebagai daerah alternatif bagi pusat pertahanan Aceh
akhirnya mendapat serangan pihak Belanda dari segala penjuru.
Melalui Pase Pasukan Belanda yang dipimpin Mayor van Daalen selama tiga bulan
(sejak September hingga November 1901) terus saja melakukan gerakan pengejaran
terhadap Sultan dan Panglima Polem yang telah berada di Gayo. Akan tetapi Belanda
benar-benar mengalami kesulitan yang luar biasa dalam setiap kali pertempuran. Hal itu
disebabkan dataran tinggi Gayo sebelumnya tidak pernah dijamah oleh pasukan mereka.
Oleh karenanya, Belanda tidak membawa hasil apa-apa dari penyerangan ini, kecuali
hanya mendapat sasaran tembak dan pasukan Aceh yang memang lebih menguasai
medan.
Untuk memperkuat barisan penyerangannya, maka Pada bulan Juni sarnpai
September 1902 Penguasa Belanda memerintahkan Letnan satu W.B.J.A Scheepens
bersama sejumlah pasukannya bergerak dari Meureudu ke Gayo. Kehadiran pasukan
Scheepens ini memang sangat banyak membantu penyerangan Belanda, sehingga pasukan
Aceh sejak saat itu mulai mengalami tekanan yang luar biasa. Walaupun demikian,
Belanda tetap saja gagal menangkap Sultan dan Panglima Polem.
Siasat Kelicikan Belanda
Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan dalam usahanya menangkap Sultan
Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem, maka selama hampir satu bulan Belanda
menghentikan penyerangannya ke daerah Gayo. Selama masa itu pula Belanda mengatur
strategi baru dengan cara yang sangat licik yakni dengan cara menangkap orang-orang
dekat, ahli kerabat yang paling disayangi Sultan. Oleh karena itu, pada tanggal 26
November 1902, pasukan Marsose di bawah Christoffel kemudian melakukan penyerbuan
dan berhasil menangkap isteri Sultan dan Teungku Putroe yang pada saat itu rnasih berada
di Glumpang Payong. Sebulan kemudian bertepatan dengan hari Natal, Belanda kembali
berhasil menangkap isteri Sultan yang lainnya Pocut Cot Murong dan juga seorang Putera
Sultan di Lam Meulo. Setelah berhasil menangkap para kerabat Sultan Muhammad Daud
Syah, Belanda kemudian mengeluarkan ancaman yang berisi apabila Sultan tidak
menyerahkan diri dalam tempo satu bulan, maka kedua isterinya akan dibuang.
Berdamai dengan Belanda
Menerima berita ancaman itu, akhirnya pada tanggal 10 Januari 1903 Sultan
Muhammad Daud Syah terpaksa berdamai dengan Belanda. Selanjutnya Pemerintah Hindia
Belanda mengasingkannya ke Ambon dan terakhir dipindahkan ke Batavia sampai Sultan
wafat pada tanggal 6 Februari 1939. Sedangkan Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa
Muhammad Daud baru pada tanggal 7 September 1903 secara terpaksa juga berdamai
dengan Belanda.
Penutup
Secara khusus dengan berdamainya Sultan Muhammad Daud Syah dan Teuku
Panglima Polem, pihak Belanda mengira bahwa secara keseluruhan wilayah dan rakyat
Aceh telah berhasil mereka kuasai sepenuhnya. Perkiraan Belanda ternyata sangat
bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi kemudian, di mana ternyata rakyat Aceh
tidak pernah mau berdamai apa lagi menyerah kepada Belanda. Oleh karena itu,
peperangan demi peperangan antara rakyat Aceh dengan Belanda terus saja berlangsung.
Walaupun ada sebagian orang yang beranggapan bahwa dengan berdamainya Sultan Daud
pada tahun 1903 dengan Belanda berarti kedaulatan Aceh sudah tidak ada lagi, namun
yang jelas peperangan demi peperangan tidak pernah berakhir secara tegas. Para pejuang
Aceh lainnya bersama seluruh rakyat yang merasa harkat dan martabatnya terinjak-injak
masih tetap saja melakukan gerakan-gerakan perlawanan terhadap Belanda. Peperangan
terus saja berlangsung sampai masa penjajahan Jepang.

Senin, 08 Februari 2010

Jejak perjuangan sang Sultan M.Daud Syah

ASAL MULA malapetaka itu berawal dari Maklumat Loudon, pejabat tinggi Belanda yang memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh, di bawah pemerintahah Sultan Alaiddin Mahmud Syah II. Mulai pagi 26 Maret 1873 itu, Aceh memasuki babak baru kehidupannya, yakni perang dengan Belanda yang berkepanjangan.



Prang ini bukan yang pertama dihadapi. Sebelumnya, akhir abad ke-15, Aceh telah pernah bersiteru dengan Armada Portugis di Malaka. Perang dengan beberapa daerah takluknya juga pernah terjadi, seperti dengan Pahang, Aru, Johor, dan jauh sebelum itu, orang Aceh pernah mengusir armada Majapahit dari pantai Tualang Cut (Manyak Payet) di pesisir timur Aceh, hingga menewaskan Maha Patih Gajah Mada, dan berkubur di perairan Selat Malaka sekitar Pulau Kampai. Tapi prang kali ini memakan waktu cukup lama (Maret 1873 hingga Maret 1942), seperti yang ditulis Paul van Veer dalam catatan sejarahnya.

Prang Atjeh memakan korban begitu banyak, dan menguras dana dari Den Haag di Belanda tidak sedikit pula. Dan setahun setelah Makloemat Loudon itu (tahun 1874), Dalam (Keraton) berhasil diduduki. Sultan Alaiddin Mahmud Syah II mengungsi ke Pagar Ayee, dan beliau wafat di sana karena penyakit tha‘un (kolera) yang sedang mewabah begitu dahsyat kala itu. Menghindari kejaran Belanda, jenazah Sultan dilarikan agak jauh dari Koetaraja, yakni ke kawasan hutan Samahani, dan dimakamkan di sana.

Para pengawal Sultan dihadapkan pada masalah kepemimpinan baru, karena Putra Mahkota Tuwankoe Alaiddin Muhammad Daoed Syah masih di bawah umur. Dalam adat dan kebiasaan Aceh, anak dibawah umur belum boleh diangkat menjadi peminpin atau raja. Maka sang Putra Mahkota diperwalikan kepada Teuku Panglima Polem VII Mahmud Arifin, gelar Muda Kuala, Panglima Sagoe XXII Mukim berkedudukan di Lam Sie.

Sementara itu roda pemerintahan dilaksanakan oleh seorang Mangkubumi, yakni Toewankoe Hasyem Bangta Muda, turunan Sultan Iskandar Muda dari isteri Putri Ethiopia, yang di Aceh sangat dikenal dengan Gundek Lamsie. Putri Ethiopia inilah yang merupakan ibunda dari Teuku Panglima Polem pertama, alias Teuengku Batee Timoh.

Putra Mahkota Alaiddin Muhammad Dawood Syah, anak muda di bawah umur itu, Toewankoe Muhammad Daoed bin Marhum Toewankoe Zainal Abidin Alaiddin Syah, harus menunggu sampai aqil baliq tiba. Barulah pada tahun 1878, beliau dilantik menjadi Sultan, di Masjid Indrapuri, kawasan walayah XXII Mukim. Sebelum itu pemerintahan dikendalikan oleh Mangkubumi, bersama sejumlah pemuka dan panglima prang yang tangguh. Teuku Panglima Polem Mahmud Arifin, hulubalang Sagoe XXII Mukim adalah pendukung setia di samping teuku Imum Lueng Bata, Teungku Syech Saman di Tiro, dan lain lain.

Pasukan Belanda yang semakin agresif, menyebabkan Mangkubumi dan pengikutnya harus berpindah pidah tempat. Antara 1874 hingga 1878, Putra Mahkota selalu ikut bersama kemana mana, hingga tiba saat pelantikan menjadi Sultan.

Sultan Alaiddin Muhammad Dawoe Syah juga berpindah pindah tempat, bergerilya bersama Teungku Syik di Tiro Muhammad Saman, Teuku Panglima Polem, Panglima Nyak Makam, Teuku Imum Lueng Bata, dan sejumlah pemuka Aceh lainnya, hingga Sultan akhirnya memilih Keumala (sebuah Gampong dalam Wilayah Teuku Ben Keumala di Pidie) sebagai pusat pemerintahan.

Dari gampong yang tanpa istana mewah, Sultan memimpin perang dan mengendalikan pemerintahan Aceh, dengan segala suka dukanya. Teungku Putroe Pocut di Glumpang Payong, dan Tengku Potroe Pocut Gamba Gading menemani Sultan dengan sangat setia.

Prang Aceh terus berkecamuk. Satu satu para pemimpin Aceh gugur di tangan Marsose. Pasukan ini dibentuk pada 2 April 1890, atas inisistif Syamsarif, pria sal Minangkabau yang bekerja di Aceh. Marsose dikenal sangat ganasnya dalam menghadapi para pejuang Aceh. Pernah pula diusulkan agar pasukan Marsose diperlengkapi dengan orang orang dari Arafuru. Ambon, yang terkenal sangat buas dan suka menjadi penjagal dan tukang pancung terkenal. Akan tetapi, ide itu ditolak oleh pemerintah Belanda di Batavia.

Di pantai barat Aceh, sejumlah pemuka Aceh bergerilya melawan Belanda yang semakin ganas. Teuku Imum Muda Raja Teunom, meng-internasionalisasi-kan Prang Aceh dengan menyandera Kapal Nisero, milik Pemerintah Inggris di perairan Pasi Panga di Aceh Barat, pada tanggal 13 Oktober 1883. Penyanderaan ini telah mendorong Ingris menekan Belanda untuk mengakhiri perang di Aceh, tetapi tak digubris Belanda.

Teuku Umar memimpin prang dari markasnya di Rigaih, dan sesekali beliau berada di kawasan Aceh Rayek yang menjadi basis pemerintahan Nanta, dari Lam Padang hingga Seudu. Sementara itu, Teuku Nyak Makam memimpin perlawanan di kawasan Simpang Ulim, pantai timur Aceh, hingga ke perbatasan Langkat di Sumatra Utara.

Tapi pasukan Belanda semakin ofensif, akhirnya Sultan dan para pengikutnya memilih untuk meninggalkan Istana Keumala, dan berpindah pindah hingga ke pedalaman Gayo. Sultan pernah bertempat tinggal di Toweran, Takengon. Sementara itu, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud gelar Muda Sakti, sudah mengungsi pula ke kawasan utara Aceh dan menetap di kawasan tepian selatan Danau Laur Tawar, untuk beberapa lama. Belanda kehabisan akal hingga menemukan akal licik dengan menyandera perempuan isteri para pemimpin Aceh. Di antara nya yang ikut disandra adalah Teungku Ptroe, isteri Sultan yang berada di Glumpang Payong Pidie. Beliau ditangkap pasukan Letnan H Chirstofel pada 26 November 1902. Sebulan kemudian, tepatnya pada Hari Natal 25 Desember 1902, Belanda berhasil menangkap Teungku Putroe Gamba Gadeng asal Cot Murong bersama putra tunggal Sultan, Toewankoe Raja Ibrahim yang tinggal di Lam Meulo (sekarang Kota Bakti) di Pidie. Demikian pula terhadap isteri dari Teuku Panglima Polem ikut pula ditangkap, sehinga kedua pemimpin itu harus menyarungkan peudeueng prang mereka.

sehingga diasingkan ke Batavia hingga ke Ambon, kemudian dipindahkan ke Batavia lagi hingga wafat tahun 1939.
Makamnya ada di Rawamangun.
namun sampai saat ini gax ada inisiatif dari pemerintah untuk merawatnya..


Sumber :acehdalamsejarah.blogspot.com

Makam Cut Nyak Dhien,Sepi Akibat Perang Saudara

Makam Cut Nyak Dhien
Sepi Akibat Perang Saudara


SH/Rafael Sebayang
Makam Cut Nyak Dhien (atas).

Sumedang – Perang saudara di Aceh hanya membawa penderitaan bagi rakyat Aceh. Sampai-sampai menciutkan arus kunjungan peziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jawa Barat. Sepi karena areal makam pun kini sering diawasi aparat.

Sebelum perang meletus, masyarakat Aceh di Sumedang masih sempat menggelar acara sarasehan pada Oktober tahun lalu. Dalam acara ini, para peserta berangkat ziarah menuju makam pahlawan wanita asal Aceh itu dengan berjalan kaki. Rutenya, Gedung Negara, kompleks Pemerintah Kabupaten Sumedang lalu menyusuri Jalan Prabu Geusan Ulun, belok ke Jalan Raden Saleh kemudian masuk ke Jalan Tjoet Nyak Dhien dan akhirnya samai di Gunung Puyuh. Kalau disusuri rute ini punya jarak kira-kira dua km.
Menurut Nana Sukmana, juru kunci makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung (Kamaba) selalu menggelar acara tahunan. Biasanya, mereka melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran. Yang kedua, warga Aceh dari Jakarta membuat acara Haul setiap bulan November. Selain itu, rombongan peziarah selalu menyambangi tempat ini.
”Makam ini biasanya ramai dikunjungi pada hari Minggu atau libur. Kebanyakan yang datang dari luar kota dan orang-orang Aceh,” sebut Nana yang berusia 57 tahun itu. Kalau lagi ramai, jumlah pengunjung bisa mencapai angka 200. Kini, jumlah itu menurun drastis. Malah, belakangan makin sering diawasi pihak aparat.
Ketika tim SH mengunjungi makam pada Minggu (15/6) memang tak terlihat aktivitas ziarah yang mencolok. Kami hanya sempat bertemu satu rombongan kecil dari Bandung. Rombongan ini dipimpin A.A Rahman (52) yang berjumlah 7 orang. ”Saya datang bersama keluarga. Kebetulan ada acara di rumah adik, jadi begitu selesai kami mampir ke sini.”
A.A Rahman mengaku baru pertama kali datang. Katanya, tujuan kedatangan hanya untuk mengenang keberadaan pahlawan kemerdekaan nasional lewat Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 106 pada 2 Mei 1964. ”Kami cuma ingin tahu makam Cut Nyak Dhien, selama ini kan cuma tahu dari sejarah,” ujar bapak empat anak ini.
Melakukan aktivitas ziarah sebetulnya bukan hal aneh bagi A.A Rahman. Setiap bulan ia selalu menyempatkan diri untuk keluar menyambangi makam-makam bersejarah. Sebut saja, di Pandeglang ada Saketi (makam Syeh Mansyur), Cuganewah (Bandung) dan lainnya. ”Saya biasanya pergi dengan rombongan ziarah dari ahli masjid dari Pesantren Cibabat, Cimahi.”

Tak Ada yang Tahu
Makam Cut Nyak Dhien terletak di kompleks makam Gunung Puyuh. Kompleks makam pahlawan nasional itu ada di belakang pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang. Letak makam Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa sesungguhnya perempuan pahlawan Aceh yang menyumbangkan dirinya bagi kemerdekaan Indonesia.
Ketika masyarakat Sumedang sudah beralih generasi dan sudah melupakan Ibu Perbu (Ratu) – gelar yang diberikan masyarakat untuk Cut Nyak Dhien – pada 1960-an berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda akhirnya diketahui bahwa perempuan itu, seorang pahlawan asal Aceh yang terkenal telah diasingkan ke Pulau Jawa. Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907 : 12).
Kalau merujuk keterangan Nana Sukmana, makam ditemukan pada 1959. Pencarian ini berdasar pemintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. ”Pencarian dilakukan setelah ada data yang ditemukan di Belanda. Kebetulan waktu itu ada saksi hidup, yaitu putranya Ibu Haji Soleha,” papar Nana.
Ibu Haji Soleha adalah pemilik rumah yang ditempati Cut Nyak Dhien selama masa pembuangan sampai akhir hayat. Rumah ini ada di belakang Kaum (masjid agung Sumedang), tepatnya di Jalan Rd. Suyud No. 17. Sampai sekarang, rumah ini masih ada dan bentuknya tetap seperti aslinya, rumah panggung dengan dinding papan kayu. Rumah yang belum pernah dipugar ini dijadikan cagar budaya kini ditempati Ibu Neng Aisyah (buyut dari H. Soleha) bersama seorang anaknya.
Pada 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien diasingkan pemerintah Belanda ke Sumedang. Waktu itu, perempuan tua renta dan rabun ini datang bersama dua orang pengikutnya. Seorang panglima berumur kurang lebih 50 tahun, dan Teuku Nana remaja berusia 15 tahun. Kepada Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, perempuan yang hanya membawa pakaian lusuh yang melekat di tubuhnya, sebuah tasbih yang tak lepas dari tangannya dan sebuah periuk nasi dari tanah liat itu dititipkan sebagai tahanan politik Belanda.
Melihat perempuan tersebut taat beragama, Bupati bergelar Pangeran Makkah itu tidak menempatkannya di penjara, tetapi pada sebuah rumah milik tokoh agama setempat. Itulah rumah H. Soleha tadi.

Pencet Bel
Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987. Ini bisa dilihat pada monumen peringatan yang ada di sebelah kanan depan, dekat pintu masuk. Di situ, tertulis peresmian makam yang ditandatangani Prof. Dr. Ibrahim Hasan, Mba, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Sumedang 7 Desember 1987.
Kompleks makam istri Teuku Ibrahim dan Teuku Umar Djohan Pahlawan itu dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton. Luasnya sekitar 1.500 meter persegi. Di belakang kompleks terdapat meunasah (musholla dalam bahasa Aceh). Di kiri-kanan bangunan makam 4,25 x 3,75 meter ada banyak batu nisan. Kata Nana, batu nisan itu adalah makam dari keluarga H. Sanusi, ulama besar dari Sumedang yang pernah dibuang ke Ambon. Keluarga H. Sanusi ini adalah pemilik tanah kompleks makam Cut Nyak Dhien.
Kalau tak ada pengunjung pagar selalu terkunci rapat. Bila Anda datang pada saat sepi, tak perlu bingung menemukan kondisi tadi. Cukup pencet bel yang ada di dinding kiri pintu masuk. Tak lama kemudian, Nana Sukmana akan keluar dari balik rerimbunan pohon.
Pada batu nisan makam terdapat sekelumit riwayat Cut Nyak Dhien, tulisan Arab, Surat At Taubah & Al Fajar dan hikayat cerita Aceh. Soal ini, Nana Sukmana amat fasih menerangkan kepada pengunjung, termasuk kepada tim SH dan keluarga A.A. Rahman.
Kini, untuk biaya perawatan Nana hanya mengandalkan dari kotak amal yang ada di makam. Tak ada anggaran khusus dari pemkab Sumedang. Ia sudah dua puluh tahun menjaga makam. Jadi jangan heran, kalau mau tahu riwayat Cut Nyak Dhien lebih jauh Nana lebih suka mengedarkan buku kecil. Sayangnya, perbanyakan buku tak menarik, hanya difotokopi lalu diberi sampul hijau yang tertulis ‘Riwayat Singkat Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien.’ Itu sebabnya, foto-foto yang ada tak begitu jelas.


sumber:sinarharapan.co.id

Senin, 01 Februari 2010

Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Nusantara (Meurah Silu/Malikussaleh)

Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Nusantara (Meurah Silu/Malikussaleh)


Nisan Sultan Malik Al-Saleh atau Malikussaleh Nama asal beliau : Meurah Silu, pendiri Kerajaan Pasai, kerajaan Islam pertama di nusantara.
Sultan Malikussaleh memerintah sejak 1270 M hingga 1279 M. Makam ini berada didekat bekas reruntuhan bangunan pusat Kerajaan Samudera di Desa Beuringin Kecamatan Samudera 17 KM sebelah timur Lhokseumawe.
Nisan terbuat dari batu granit berpahatkan aksara Arab. terjemahannya, kira - kira demikian ;
ini kuburan almarhum yang diampuni, yang taqwa, yang menjadi penasihat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadat, penakluk yang bergelar Sultan Malik Al-Saleh

NISAN SULTAN MUHAMMAD MALIK AL-ZAHIR ATAU MALIKUZZAHIR


Nisan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir atau Malikuzzahir anak laki - laki dari Sultan Malik Al-Shaleh dari pernikahannya dengan Putri Ganggang Sari, anak perempuan Sultan Peureulak. memimpin Kerajaan Samudera Pasai sekitar 1297 s/d 1326 M.

Terletak disamping makam Sultan Malik Al-Shaleh ayahandanya. Gelar lengkap beliau : As-Syahid sahida' - marhum 1' Sultan Bin maliku'z-Zahir Syamsu'dunia wa'ddin MUhammad Bin Maliku's Saleh

Terjemahannya, kurang lebih berbunyi sebagai berikut :
"Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia Sultan Malik Al-Zahir cahaya dunia dan sinar agama Muhammad bina Malik al-salih wafat pada malam Ahad dua belas hari bulan Zulhijjah tahun 726 Hijriah"

MAKAM RATU NAHRISYAH

Ratu Nahrisyah yang memerintah tahun 1420 - 1428 M adalah anak dari Malikuzzahir atau cucu dari Sultan Malikussaleh. Makamnya terbuat dari batu pualam yang terindah pahatannya di Pulau Sumatera. Mangkat pada hari Senin 17 Zulhijjah 831 H atau 27 September 1428 H. Lokasi makam ini terletak di Desa Kuta Krueng Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara 18 Km arah timur Kota Lhokseumawe, dalam komplek makam ini terdapat 38 batu pusara.

MAKAM PENGERAN ABDULLAH IBNU MUHAMMAD IBNU ABDUL KADIR
Makam Pangeran Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Abdul Kadir salah seorang keturunan Khalifah Abbasiah al - Muntasir (1226-1242) meninggal tahun 810 H (1403 M).

Salah seorang Pangeran yang berhasil lolos dari pembunuhan ketika serangan Hulagu Khan dari Monggol yang membinasakan Baghdad tahun 656 H (1258).

Terletak di Desa Kuta Krueng 500 m dari Makam Ratu Nahrisah, Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara 15 Km sebelah timur Kota Lhokseumawe

Areal , memiliki nilai sejarah yaitu kaligrafi diatas batu pualam pada setiap makam mengungkapkan sejarah masuknya peradaban Islam pertama ke Nusantara, terdapat banyak makam lainnya seperti : para pembesar kerajaan, perdana menteri dan keluarga kerajaan, memiliki beberapa sarana dan prasarana pendukung, seperti : jalan menuju lokasi dalam keadaan baik, tersedia sarana transportasi umum, kondisi areal dalam kondisi terpelihara baik

Arti yang terpatri pada batu nisan Sultan Maliku Saleh: "Ini kubur adalah kepunyaan almarhum hamba yang dihormati, yang diampuni, yang taqwa, yang menjadi penasehat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadah, penakluk, yang bergelar dengan Sultan Malikul Salih". (Tanggal wafat, bulan Ramadhan tahun 696 Hijrah/1297 Masehi)
Pada bagian belakang terpatri: Sesungguhnya dunia ini fana. Dunia ini tiadalah kekal Sesungguhnya dunia ini ibarat sarang yang ditenun oleh laba-laba Demi sesungguhnya memadailah buat engkau dunia ini.Hai orang yang mencari kekuatan. Hidup hanya untuk masa pendek saja . Semua orang di dunia ini tentu akan mati.

MATA UANG KERAJAAN SAMUDERA PASAI DARI MASA KE MASA BAHAN DASAR: EMAS

UANG MAS , SAMUDRA PASAI THN 1297-1326,

216-63., SAMUDRA PASAI (Atchi), gold kupangs, Arabic legends, no dates: a)

Muhammad, 1297-1326, VF $40.00 sold


b) same, XF $50.00 sold

c) Ahmad II, 1346-1383, VF $40.00 sold

d) same, XF $50.00 sold
e) Mu'min, c. 1455, 'Ali Malik Al-Zahir / Sultan Al-'Adil, VF+ $50.00 sold

#16260: Old Forgery of Sultan Muhammad (1297-1326) of Samudra-Passai

most probably, this is a circulation forgery of kupang coin, but definetely not of Sultan Muhammad time
Keywords: Old Forgery of Sultan Muhammad (1297-1326) Samudra-Passai
Weight, g: 0.41g
Metal: aluminium-bronze alloy
color in picture looks gold to me ; is it plated?
#15826: AV Mas of Samudra-Passai, Sultan Muhammad (1297-1326)

Keywords: gold
Weight, g: 0,6
Size, mm: 10
Denomination: Mas
Metal: AV
Sultan Muhammad (1297-1326). Coins of this sultan are among the most common types of Samudra-Passai. This exact piece looks like a cast forgery.
yes from details in picture this one looks like a cast piece
this coin is definitely not a cast coin,the edges of the letters are hight and sharp.Are there any literature about this Pasai and Acheh coins?
#15827: AV Mas of Samudra-Passai, Sultan Muhammad (1297-1326)

Keywords: gold
Weight, g: 0,6
Size, mm: 10
Denomination: Mas
Metal: AV
Sultan Muhammad (1297-1326). Coins of this sultan are among the most common types of Samudra-Passai. This piece looks genuine.
Pasai Sultanate AV kupang, Abdullah Malik AzZahir
Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas Dinar of Sultan Abdullah Malik Az Zahir reigned from 1501-1513AD. Obv: AsSultan Al AdilRev: Abdullah Malik AzZahir
Keywords: Pasai, Acheh, Dinar, Mas,Gold, Abdullah Malik AzZahir
Date: 1501-1513 AD
Denomination: kupang
Metal: AV
#21021: Samudra Pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Muhammad Malik Az Zahir reigned from 1297-1326AD. Obv: AsSultan Al AdilRev: Muhammad Malik AzZahir
Keywords: Samudra pasai kupang
Weight, g: 0.59gm
Size, mm: 10mm
Date: 1297-1326AD
Denomination: Kupang
Metal: GOld
#21022: Samudra Pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Mansur Malik Az Zahir reigned from 1326 AD-??. Obv: AsSultan Al AdilRev: Mansur Malik AzZahir
Keywords: Samudra Pasai Kupang
Weight, g: 0.59gm
Size, mm: 10mm
Date: 1326 AD- ??
Denomination: Kupang
Metal: Gold
I understand that (see Jean Elsen auction 86 catalogue):- Mansur reigned from 1297 - 1323; he was Sultan of Samudra only,- his elder brother Muhammad was in control of Pasai.
#21023: Samudra Pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Ahmad Malik Az Zahir reigned from 1346-1383AD. Obv: AsSultan Al AdilRev: Ahmad Malik AzZahir
Keywords: Samudra Pasai Kupang
Weight, g: 0.61gm
Size, mm: 10mm
Date: 1346-1383AD
Denomination: Kupang
Metal: Gold
#15895: AV Mas of Pasai(Sumatra)

S.Singh writes this coin to Sultan Ahmad Malik az-Zahir (1346-1383).Is this one not the same as the other two?
Keywords: color is much paler
Weight, g: 0,6
Size, mm: 10
Denomination: Mas
Metal: AV
these coins should be under Pasai not Aceh.
#16258: Forgery of Sultan Mumin (unknown period) of Samudra-Passai

Keywords: Forgery of Sultan Mumin (unknown period) Samudra-Passai
Weight, g: 0.30g
Metal: aluminium-bronze alloy
#21024: Samudra Pasai Kupang


Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Zainal Abidin Malik Az Zahir reigned from 1383-1405AD. Obv: AsSultan Al AdilRev: Zainal Abidin Malik AzZahir
Keywords: Samudra Pasai Kupang
Weight, g: 0.61gm
Size, mm: 13mm
Date: 1383-1405AD
Denomination: Kuapng
Metal: Gold
#21025: Samudra Pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Salahudin reigned from 1405-1412AD. A controversial leader who previously a fisherman. Probably that's why there was no Malik AzZahir inscription on the coin.Obv: AsSultan Al AdilRev: Salahudin
Keywords: Samudra pasai Kupang
Weight, g: 61gm
Size, mm: 10mm
Date: 1405-1412AD
Denomination: Kupang
Metal: Gold
Sultan Muzaffar of Malacca was also a fisherman and the coins struck in his period as a ruler are the most beautiful coins compared to the other rulers from Malacca.
#21026: Samudra pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera island. type gold Mas of Sultan Abu Zaid Malik Az Zahir reigned from 1412AD-??. Obv: AsSultan Al AdilRev: Abu Zaid Malik AzZahir
Keywords: Samudra Pasai Kupang
Weight, g: 0.61gm
Size, mm: 10mm
Date: 1412AD-??
Denomination: Kupang
Metal: Gold
Quoting Jean Elsen auction 86 commentary:"This ruler is not on the list given by Mitchiner (SEA p.219), but is without any doubt one of the two unknown sultans that occur on it. He is probably the sultan who ruled from 1412 - 1434."
#21027: Samudra Pasai Kupang

Acheh, Pasai Sultanate situated north of Sumatera Abdullah Malik Az Zahir reigned from 1501-1513AD. Obv: AsSultan Al AdilRev: Abdullah Malik AzZahir
Keywords: Samudra Pasai Kupang
Weight, g: 0.61gm
Size, mm: 10mm
Date: 1501-1513AD
Denomination: Kupang
Metal: Gold

#16223: Sultans of Samudra AV kupang, Zain Al-Abidun b. Abd Allah

ACHEH, SUMATRA, Sultans of Samudra-pasai, Moemin ibn `Abdallah (AH 919-930/AD 1513-1524), AV kupang, Ref.: Mitch., SEA, -. 0,59g.Correct identification by Vasilijs Mihailovs:ACHEH, SUMATRA, Sultans of Samudra-pasai, Zain Al-Abidin Ibn Abd Allah (period of reign unknown), AV kupang, unpublished, 0.59g.
Keywords: gold
Weight, g: 0.59 g
Denomination: Kupang
Metal: AV
#16042: Sultanat Aceh AV Mas, Sultan Alau Ad-Din Riayat Shah Al-Qahhar (1537-1571)

Keywords: gold
Weight, g: 0,6
Size, mm: 11
Denomination: Mas
Metal: AV
Yes, this is Sultan Alau Ad-Din Riayat Shah Al-Qahhar (1537-1571), obverse reads Alau Ad-Din Bin Ali Malik Az-Zahir, reverse reads As-Sultan Al-Adil.

Samudera-Pasai

According to the 'Sejarah Melayu' and 'Hikayat Raja-raja Pasai', Meurah Silau or Malik Az Zahir (1261-1289AD) is the first Samudera Pasai king to embraced Islam.

Period : Sultan Muhammad Malik Az Zahir (1297-1326AD)

Obv : Muhammad Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Mahmud Malik Az Zahir (1326-1345AD)

Obv : Mahmud Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Mansur Malik Az Zahir (1326?AD)

Obv : Mansur Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Ahmad Malik Az Zahir (1346-1383AD)

Obv : Ahmad Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Zain al Abidin Malik Az Zahir (1383-1405AD)

Obv : Zainal Abidin Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Sallah ad din Malik Az Zahir (1297-1326AD)

Obv : Callah ad din Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref :

Period : Sultan Abu Zaid Malik Az Zahir (1412?AD)

Obv : Abu Zaid Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : type 1

Period : Sultan Abu Zaid Malik Az Zahir (1412?AD)

Obv : Abu Zaid Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : type 2

Period : Sultan Abdullah Malik Az Zahir (1501-1513AD)

Obv : Abdul Allah Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : type 1

Period : Sultan Abdullah Malik Az Zahir (1501-1513AD)

Obv : Abdul Allah Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : type 2

Period : Sultan Abdullah Malik Az Zahir (1501-1513AD)

Obv : Abdul Allah Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : type 3

Period : Sultan Zainal Abidin (1513-1524AD)

Obv : Zainal Abidin Malik Az Zahir Reverse : Al Sultan Al Adil

Metal/Denomination : Gold 1/4 Mas/Dinar

Ref : Last Sultan of Pasai before took over by Aceh in 1524


sumber : amanahguru.multiply.com

BENTENG INONG BALEE DAN KOMPLEKS MAKAM LAKSAMANA MALAHAYATI

Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

BENTENG INONG BALEE DAN KOMPLEKS MAKAM LAKSAMANA MALAHAYATI DI KABUPATEN ACEH BESAR, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

with 2 comments

Deni Sutrisna

Balai Arkeologi Medan

Abstract

The complex of Laksamana Malahayati’s grave is in Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. As a symbol of respecting and the meaning of her war, its location is in hilltop and protected by wall. It’s winged and unwinged slab gravestone type with longfeet square. In her life, Laksamana Malahayati was known as a brave admiral when marched against Portuguese and Dutch in Malaka Straits. One of her great contribution was when she formed a single troop consists of some widows (known as Inong Balee and Benteng Inong Balee) fight against the imperialism.

Kata kunci: benteng, makam, nisan, Inong Balee

I. Pendahuluan

Laksamana Keumala Hayati atau Malahayati adalah wanita pejuang Aceh yang terkenal dalam kemiliteran pada masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604 M). Malahayati diberikan kepercayaan oleh sultan sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan di luar istana. Saat masih kanak-kanak ibunya telah meninggal dunia, dan selanjutnya diasuh oleh ayahnya sendiri bernama Laksamana Mahmudsyah (Tim, 1998:19). Malahayati kecil sering diajak ayahnya pergi dengan kapal perang. Pengenalannya dengan kehidupan laut itu kelak membentuk sifatnya yang gagah berani dalam mengarungi laut luas.

Selain berkedudukan sebagai Kepala Pengawal Istana, Malahayati juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan. Dalam suatu peristiwa pada tanggal 21 Juni 1599, kerajaan kedatangan dua kapal Belanda, Deleeuw dan Deleeuwin dibawah pimpinan dua orang kapten kapal bersaudara, yaitu Cornelis dan Frederik de Houtman (Tim P3SKA, 1998:19). Maksud kedatangan mereka adalah untuk melakukan perjanjian dagang dan memberikan bantuan dengan meminjamkan dua kapal tersebut guna membawa pasukan Aceh untuk menaklukan Johor pada tanggal 11 September 1599. Peminjaman kapal tersebut ternyata merupakan bentuk tipu muslihat Belanda, karena ketika para prajurit kerajaan menaiki kapal, kedua kapten kapal tersebut melarangnya sehingga terjadilah bentrokan yang tak terhindarkan. Dalam peristiwa itu banyak dari pihak Belanda tewas, kedua kaptennya ditangkap oleh pasukan Aceh yang dipimpin oleh Malahayati. Karena kecakapannya itulah kemudian sultan mengangkatnya menjadi Laksamana. Selanjutnya atas izin sultan dan inisiatif dari Laksamana Malahayati, dibentuk sebuah pasukan yang terdiri dari para janda yang ditinggalkan oleh suaminya karena gugur dalam perang. Pasukan itu bernama Inong Balee di bawah pimpinan Laksamana Malahayati sendiri. Markas pasukan ini berada di Lam Kuta, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar (Tim P3SKA, 1998 :14). Salah satu jejak perjuangan yang masih tersisa hingga kini adalah kompleks makam Malahayati yang berada di puncak bukit dan sebuah benteng yang disebut Benteng Inong Balee di tepi pantai Selat Malaka, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Melalui kedua situs tersebut yang akan dituangkan dalam tulisan ini diharapkan dapat melengkapi sejarah perjuangannya di bidang kebaharian.

II. Armada Inong Balee

Pada zaman Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah tahun 997-1011 H (1589-1604), dibentuk sebuah armada yang sebagian prajurit-prajuritnya terdiri dari janda-janda yang disebut Armada Inong Balee. Armada ini dipimpin Laksamana Malahayati, seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dalam suatu pertempuran laut.

Armada Inong Balee berulangkali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, daerah pantai timur Sumatera, dan Malaya. Seorang wanita penulis asal Belanda, Marie van Zuchyelen dalam bukunya “Vrouwolijke Admiral Malahayati” memuji Laksamana Malahayati dengan armada Inong Baleenya itu, terdiri dari 2000 prajurit wanita yang gagah dan tangkas (Hasjmy, 1975:95). Laksamana Malahayati melatih para janda menjadi prajurit kesultanan yang tangguh di dalam sebuah benteng, yaitu Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati juga diberi wewenang oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil untuk menerima dan menghadap utusan Ratu Inggris Ratu Elizabeth I, Sir James Lancaster yang datang ke Aceh dengan tiga kapal yaitu Dragon, Hector dan Ascentic pada tanggal 6 Juni 1602 dengan membawa sepucuk surat dari Ratu Inggris (Mann, 2004:23).

Pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil yang memerintah dalam tahun 1011-1015 H (1604-1607) keberadaan prajurit wanita itu masih tetap dipertahankan, yaitu dengan dibentuknya Sukey Kaway Istana (Kesatuan Pengawal Istana). Kesatuan Pengawal Istana itu terdiri dari Si Pa-i Inong (prajurit wanita) di bawah pimpinan dua pahlawan wanita: Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun (Hasjmy, 1975:95).

Kedua pimpinan Kesatuan Pengawal Istana itulah yang telah berjasa membebaskan Iskandar Muda dari penjara tahanan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil (Jamil, 1959:114). Setelah pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil berakhir, dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah yang memerintah pada tahun 1016-1045 H (1607-1636 M). Pada masa itu Kerajaan Aceh Darussalam berkembang pesat dan mengalami masa keemasannya. Perhatian sultan kepada para prajurit wanita cukup besar. Sultan memperbesar dan mempermodern Angkatan Perang Aceh, di antaranya membentuk suatu kesatuan pengawal istana yang terdiri dari prajurit wanita di bawah pimpinan seorang jenderal wanita, Jenderal Keumala Cahaya. Dari catatan sejarah kesatuan wanita tersebut sebagian merupakan Kesatuan Kawal Kehormatan yang terdiri dari prajurit wanita cantik. Kesatuan ini bertugas menyambut tamu-tamu agung atau para pembesar baik dari kalangan pembesar kerajaan di nusantara maupun dari luar/asing dengan barisan kehormatannya.

III. Benteng Inong Balee

Secara administratif berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini disebut Benteng Inong Balee yang pebangunannya dipimpin Laksamana Malahayati, pada masa Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil. Pencapaian menuju Benteng Inong Balee melalui jalan raya beraspal arah Banda Aceh – Mesjid Raya berbelok ke arah kiri berlanjut melalui jalan tanah. Kemudian sekitar 1 km melintasi jalan tanah tersebut maka akan dijumpai benteng yang berada di tepi jurang, dan dibawahnya pantai dengan batuan karang.

Benteng berdenah persegipanjang menghadap ke barat yaitu arah laut/Selat Malaka. Batas tembok di sisi utara berupa tanah landai yang penuh dengan semak belukar, sisi timur juga semak belukar, sisi selatan areal perladangan, dan sisi barat sekitar 10 m adalah jurang. Konstruksi tembok benteng yang masih tersisa kini di bagian barat berupa tembok yang membujur utara-selatan, dan di bagian utara dan selatan membujur timur-barat. Kemudian di bagian timur terdapat struktur pondasi berukuran panjang sekitar 20 m. Bahan bangunan penyusun tembok benteng terbuat dari batuan alam berspesi kapur. Tembok benteng di bagian barat memiliki ukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi 2,5 m, tembok benteng di bagian utara berukuran panjang 40 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Sedangkan tembok di bagian selatan berukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Pada tembok yang membujur utara-selatan di bagian barat terdapat 4 lubang pengintaian menyerupai bentuk tapal kuda. Tinggi lubang pengintaian bagian dalam sekitar 90 cm, lebar 160 cm, sedangkan tinggi lubang bagian luar sekitar 85 cm dan lebar 100 cm. Posisinya yang mengarah ke Selat Malaka jelas berfungsi untuk mengawasi terhadap lalu-lalang kapal laut. Benteng Inong Balee sering disebut juga Benteng Malahayati. Benteng ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistik keperluan perang.

Struktur tembok benteng di bagian utara

IV. Kompleks Makam Laksamana Malahayati

Sekitar 3 km dari Benteng Inong Balee dijumpai kompleks makam Laksamana Malahayati yaitu pada bagian puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk. Pencapaian ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Areal makam dibatasi pagar tembok dengan pintu masuk berada di timur. Ada tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi oleh satu cungkup. Jirat berbentuk persegipanjang dari semen yang dilapisi keramik putih. Ukuran tinggi jirat dari permukaan tanah sekitarnya adalah 30 cm.

Berikut adalah deskripsi makam:

- Makam I: berada di sisi barat dilengkapi sepasang nisan tipe pipih bersayap. Bagian kaki berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Bagian bawah badan berhiaskan kuncup bunga teratai. Terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai di tengah badan nisan, hiasan sulur-suluran di bagian sayap nisan. Puncak nisan berbentuk atap limasan.

- Makam II: berada di antara Makam I dan Makam III, tipe nisan pipih tanpa sayap. Kaki nisan berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Pada bagian bawah nisan berukirkan kuncup bunga teratai. Pada bagian tengah badan terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai dan motif garis-garis. Bahu kiri dan kanan nisan meruncing ke atas. Di atas bahu nisan terdapat dua susun mahkota teratai yang diakhiri bagian puncak berbentuk atap limasan.

- Makam III: terletak di sisis timur dari Makam II. Ukuran nisan lebih kecil dari Makam I dan Makam II. Bentuk nisan pipih tanpa sayap. Nisan yang berada di bagian utara dan selatan telah patah. Selain nisan aslinya yang telah patah, nisan di bagian utara juga ditandai dengan batuan alam.

Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam sunan di Giri, Muria, dan Gunung Jati di Cirebon, Kompleks Makam Papan Tinggi dan Mahligai di Barus.

V. Peran wanita Aceh dalam kehidupan bernegara

Dibandingkan dengan sejarah perjuangan wanita di belahan bumi Nusantara yang lain, wanita pejuang Aceh dapat dikatakan dominan terlibat dalam perjuangan fisik melawan imperialisme Portugis maupun Belanda. Ini tentu saja harus dilihat dari latar belakang keterlibatan mereka terutama dari sudut pandang agama, Aceh merupakan tempat pertama kali Islam masuk, ini dibuktikan dengan tinggalan berupa makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297 M di Pase, Aceh Utara dari kerajaan Islam pertama Samudera Pasai (Ambary, 1998:42). Sejak itu landasan ajaran Islam di sana dapat dikatakan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah peradaban pemerintahan kerajaan-kerajaan di Aceh, bahkan kini landasan hukum berupa syariat Islam berlaku di sana. Dalam masalah jihad (perang di jalan Allah), menurut Islam tidak ada perbedaan pria dan wanita, artinya sama-sama wajib berjihad untuk menegakkan agama Allah, sama-sama wajib berjihad untuk membela tanah air, sama-sama wajib bekerja untuk memimpin dan membangun negara, seperti yang tertuang pada hadist-hadist berikut (Hasjmy, 1976:23):

  • Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dari seorang Sahabat-Wanita, yang mengatakan: Kami pergi berperang bersama Rasul Allah, dimana antara lain tugas kami menyediakan makan dan minum bagi para prajurit; mengembalikan anggota tentara yang syahid ke Madinah (Al Hadist Riwayat Bukhari).
  • Seorang Sahabat-Wanita yang lain berkata: Kami ikut berperang bersama Rasul Allah sampai tujuh kali, dimana kami merawat prajurit yang luka, menyediakan makan dan minum bagi mereka (Al Hadist Riwayat Bukhari).

Dari sumber yang lain, yaitu kitab yang bernama “Safinatul Hukkam” ditegaskan bahwa wanita boleh menjadi raja atau sultan, asal memiliki syarat-syarat kecakapan dan ilmu pengetahuan (Syekh Jalaluddin Tursamy: Safinatul Hukkam, hal 27). Berdasarkan sumber hadist tersebut di atas adalah merupakan hal yang logis kalau sejarah telah mencatat sejumlah nama wanita yang telah memainkan peran penting di Aceh sejak zaman Kerajaan Islam Perlak sampai Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini dapat dilihat dalam buku Risalah Akhlak yang ditulis oleh A. Hasjmy yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada awal tahun 1976. Nama-nama wanita tersebut yaitu (Hasjmy, 1976:24-26):

  1. Puteri Lindung Bulan, anak bungsu dari Raja Muda Sedia yang memerintah Kerajaan Islam Benua/Teuming pada tahun 1333-1398 M.
  2. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, yang menjadi ratu terakhir yang memerintah Kerajaan Islam Samudra/Pase pada tahun 1400-1428 M.
  3. Laksamana Malahayati, seorang janda muda yang menjadi panglima dari Armada Inong Balee masa Sultan Alaidin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah pada tahun 1589-1604 M.
  4. Ratu Safiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1641-1675 M.
  5. Ratu Naqiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1675-1678 M.
  6. Ratu Zakiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1678-1688 M.
  7. Ratu Kamalat, yang memerintah Aceh pada tahun 1688-1699 M.
  8. Cut Nyak Dhien, istri dari Tuku Umar yang meneruskan perjuangan suaminya hingga akhirnya ditangkap dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat hingga wafat di sana.
  9. Teungku Fakinah, seorang wanita Ulama yang menjadi pahlawan, memimpin sebuah kesatuan dalam Perang Aceh dan setelah perang usai Teungku Fakinah mendirikan Pusat Pendidikan Islam yang bernam Dayah Lam Biran.
  10. Cut Meutia, seorang pahlawan wanita yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya di dalam hutan dan mati syahid ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda.
  11. Pocut Baren, seorang pahlawan wanita yang pada tahun 1898-1906 M memimpin perang terhadap Belanda, dan akhirnya tertawan dalam mempertahankn bentengnya karena luka parah pada tahun 1906.
  12. Pocut Meurah Intan, Srikandi yang juga bernama Pocut Biheu, bersama putera-puteranya, Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin berperang pantang menyerah melawan Belanda selama bertahun-tahun. Pada tahun 1904 dalam keadaan luka parah bersama puteranya Tuanku Nurdin, ia ditawan Belanda. Sedangkan puteranya yang lain, Tuanku Muhammad telah syahid pada tahun 1902.
  13. Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri dari seorang ulama besar, Tengku Kahtim atau Tengku Chik Mataie. Cutpo Fatimah bersama suaminya, Tengku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia dan suaminya syahid. Pada pertempuran tanggal 22 Februari 1912 ketika bertempur melawan Belanda keduanya syahid.

Uraian tersebut menggambarkan peran agama dan kebudayaan Islam begitu besar mempengaruhi kehidupan rakyat Aceh sampai pada perjuangan melawan Portugis maupun Belanda. Jiwa keagamaan merupakan landasan pokok, rakyat baik pria dan wanita berjuang untuk mengusir Portugis atau Belanda di Aceh dengan gigih.

Mati melawan penjajah itu berarti mati syahid. Sikap inilah yang melandasi semangat juang Laksamana Malahayati bersama pasukannya untuk melakukan pertempuran dan penangkapan terhadap kapten kapal Belanda, Cornelis dan Frederik de Houtman. Pertempuran lainnya adalah di Laut Aru dengan Portugis yang ingin menguasai daerah pesisir pantai timur Aceh. Keberaniannya dalam memimpin suatu pertempuran yang dilandasi dengan kesetiaan pada kerajaan melambangkan cita-citanya yang kuat untuk mengusir penjajah dari wilayahnya. Karya nyata perjuangannya itu diwujudkan dengan membangun sebuah benteng pertahanan yang khusus bagi para janda untuk mengantisipasi serangan Portugis dari kawasan Selat Malaka, Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati melatih kemiliteran bagi para janda di dalam benteng tersebut. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan kegigihan Laksamana Malahayati dalam mempertahankan wilayah dan eksistensi kerajaannya, maka makamnya diletakan pada suatu puncak bukit di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi NAD.

VI. Penutup

Laut Nusantara telah menyisakan sederet kisah-kisah kepahlawanan yang dapat menjadi teladan bagi kita. Walaupun kisah kepahlawanan Laksamana Malahayati belum sepenuhnya terungkap namun keberadaan tinggalan arkeologis berupa Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati menguatkan bukti sejarah kisah perjuangan, tidak hanya dalam mempertahankan eksistensi kerajaannya saja, lebih dari itu Laksamana Malahayati berjuang juga demi harkat dan martabat kaumnya. Untuk mengenang jasa Laksamana Malahayati, sekitar 560 m arah utara kompleks makam terdapat pelabuhan laut untuk kegiatan bongkar muat barang maupun penyeberangan, yaitu Pelabuhan Malahayati. Nama Malahayati juga dijadikan nama kapal perang TNI AL kawasan timur/Armada Timur yaitu KRI Malahayati.


sumber : balarmedan.wordpress.com

TRAGEDI MEURAH PUPOK SANG PUTRA MAHKOTA

Kesultanan Aceh tahun 1636, Seorang Sultan Perkasa - Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam - yang menguasai Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.

Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.

Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadis Rasulullah, Ijma' Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda inilah dikenal sebuah Kata Filosofis Rakyat Aceh : Adat bak Poteu meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana. Kata Filosofis ini menjadi pedoman hidup bagi kerajaan dan masyarakatnya untuk mengatur tata kehidupan dalam menegakan kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan masyarakat.

Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.


Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota - Meurah Pupok - yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.

Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasaal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.

Ditengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.

Syahdan Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri dihadapan Sultan.

Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan geledek yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.

Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya. Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini.

Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut diatas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.

Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh - gadoh aneuk meupat jrat, gadoh hukom ngon adat pat tamita? - yang artinya hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?

Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.

Dibawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.

Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.

Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenajah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Keraton Darul Donya. Jenajah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Keraton yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.

Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.

Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.

Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman. Ditengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Muda yang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.


Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu disisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti putra kesayangan.

Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. Kisah Meurah Pupok memberikan hikmah yang mendalam.

sumber :habahate.blogspot.com

Merawat Benteng Indra Patra, Mengekalkan Sejarah Aceh

Benteng merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan heroism orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, jalan Krueng Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Kr Raya.

Sebagai situs bersejarah, keberadaan Benteng Indra Patra tentu perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, pengambilan material oleh masyarakat akan membuat bagian-bagian benteng runtuh perlahan-lahan. Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dari segi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Untuk menyelamatkan situs bersejarah itulah, Aceh Heritage Community (AHC) bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Arsitektur Jakarta (PDAJ), mengadakan survei Benteng Indra Patra, 20-21 Desember. Dua orang dari PDAJ yaitu Kemal, seorang arsitek, dan Ivan, seorang arkeolog, menemani 10 orang dari AHC.

Benteng ini berukuran besar dan berkonstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih, sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.

Tim bergerak menyusuri sudut demi sudut, mencatat fisik bangunan yang mereka lihat. Mereka mencatat mulai dari warna bebatuan, model menara yang ada, berapa banyak lubang bidik untuk meriam yang masih utuh, apakah ada ruang bawah tanah dan banyak lagi hal lainnya. Anggota AHC membuat sketsa benteng Indra Patra untuk mencatat bentuk asli bangunan.

Ivan, arkeolog asal Jakarta mengatakan banyak benteng-benteng di Indonesia yang mengalami kerusakan parah. Pemerintah daerah setempat tidak peduli dengan keberadaan benteng. Kalau pun ada renovasi, banyak perbaikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah bangunan bersejarah. "Saya pernah menemukan benteng tua di Maluku yang diplester dengan dinding semen. Itu merusak keaslian benteng, mana ada semen zaman dahulu" katanya. Padahal turis ataupun pengunjung sangat menyukai keaslian bangunan sejarah.

Ketua AHC, Yenni Rahmayanti menambahkan renovasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh melakukan renovasi benteng Indra Patra tidak sesuai dengan kaidah. Renovasi yang dilakukan sedikit banyak mengubah keasliannya. "Harusnya situs sejarah ini mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Sejarah, tapi sepertinya tidak" ujarnya.

Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.

Survei Benteng Indra Patra bukan saja mencatat fisik bangunan tetapi juga mengumpulkan kisah-kisah sejarah seputar benteng. Tim melakukan studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat sekitar untuk menggali cerita-cerita seputar Benteng Indra Patra. "Yang paling menarik dari bangunan sejarah adalah cerita seputar situs tersebut, ini yang paling menarik minat pengunjung" katanya.

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda, dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati, sebagai laksamana wanita pertama di dunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.

Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayak benteng Indra Patra di rawat dan dilestarikan. Jangan sampai nanti orang-orang hanya bisa berkata sambil menunjuk ke arah reruntuhan "Itu batu-batuan bekas apa ya?"


sumber :wikimu.com